PPG: Jembatan Kualitas Guru atau Sekadar Syarat Administratif?
Eh, guru-guru kece! Pernah gak sih ngerasain dilema antara semangat mengajar yang membara sama tumpukan administrasi yang bikin kepala berasap? Atau mungkin, pernah gak sih mikir, “Duh, PPG ini beneran bikin gue jadi guru yang lebih baik, atau cuma nambah-nambahin syarat biar dapet sertifikasi?” Jujur deh, pasti pernah kan? Ngaku aja!
Bayangin gini, lo udah jago banget ngejelasin Trigonometri sampe anak-anak auto ngerti, bikin prakarya dari barang bekas yang hasilnya lebih keren dari karya seniman, atau ngasih motivasi yang bikin anak-anak mendadak pengen jadi ilmuwan. Tapi, pas mau naik pangkat, tetiba ditodong sama syarat sertifikasi PPG yang seabrek-abrek. Rasanya kayak… udah menang lomba lari maraton, eh, pas mau nyampe garis finish disuruh ngisi formulir dulu 3 rangkap! *sigh*
Kita semua tau, jadi guru itu bukan cuma sekadar transfer ilmu. Kita ini (cieee, kita!) adalah pembentuk karakter, inspirator, motivator, bahkan kadang-kadang jadi tempat curhatnya anak-anak yang lagi galau mikirin gebetan. Tapi, kenyataannya, sistem pendidikan kita seringkali lebih fokus ke angka dan administrasi daripada esensi dari profesi guru itu sendiri. Nah, di sinilah PPG muncul sebagai sebuah wacana yang kontroversial: apakah ia benar-benar menjadi jembatan untuk meningkatkan kualitas guru, atau justru menjadi tembok besar yang menghalangi para guru hebat untuk bersinar?
Mungkin ada yang bilang, “Ah, PPG itu cuma buang-buang waktu dan duit!” Atau, “PPG itu cuma ladang bisnis baru buat kampus-kampus!” Tapi, di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa PPG adalah wadah yang tepat untuk mengasah kompetensi guru, meningkatkan profesionalisme, dan membekali guru dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Jadi, mana yang benar?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita bedah tuntas dalam artikel ini. Kita akan kupas habis pro dan kontra PPG, menggali manfaat dan mudharatnya, serta mencari tahu apakah PPG benar-benar efektif dalam meningkatkan kualitas guru, atau justru hanya menjadi sekadar syarat administratif yang membebani para guru. Siap untuk menyelami lebih dalam lika-liku dunia PPG? Yuk, lanjut baca! Jangan sampe ketinggalan, karena di akhir artikel ini, mungkin lo bakal nemuin jawaban yang selama ini lo cari-cari. 😉
Tinggalkan Balasan